https://youtu.be/5fO-Wwc1Bec?si=4owdYHgx8SKIP2hQ
SYAIKH ABDUL MUHYI PAMIJAHAN
Syekh Abdul
Muhyi Pamijahan diyakini sebagai waliyullah dan
dihormati masyarakat pesantren. la merupakan mata rantai dan pembawa tarekat
Syathariyah yang pertama ke pulau Jawa. Lebih dikenal dengan nama Haji
Karang, karena pernah uzIah dan khalwat di Gua Karang. Di
pintu gerbang makamnya yang terletak di Pamijahan Tasikmalaya, tertera tulisan Sayyiduna
Syaikh al-Hajj Waliyullah Radhiyullahu.
Syekh Abdul
Muhyi dilahirkan tahun 1650 di Mataram.
Mataram di sini ada yang menyebut di Lombok, tetapi ada juga yang menyebut
Kerajaan Mataram Islam.
Ayahnya bernama Sembah
Lebe Wartakusumah, bangsawan Sunda keturunan Raja Galuh Pajajaran yang
saat itu bagian dari Kerajaan Mataram Jawa.
lbunya bernama Raden
Ajeng Tangan Ziah, keturunan bangsawan Mataram yang berjalur sampai ke
Syaikh Ainul Yaqin (Sunan Giri).
Kefika masih anak-anak, Syekh
Abdul Muhyi telah belajar di Ampel Denta untuk mendaras berbagai
disiplin keilmuan pesantren. Pada tahun 1669 M, di usia 19 tahun, Abdul
Muhyi merantau hendak menuiu ke Mekah, tetapi singgah di Aceh.
Di Aceh Abdul Muhyi
ternyata bertemu dan belajar kepada Tengku Syiah Kuala atau Syaikh
Abdur Ra’uf as-Singkili. Berbagai disiplin keilmuan dipelajari Abdul Muhyi
di Kota Aceh ini, termasuk tarekat Syathariyah dari jalur Syaikh Abdur
Ra’uf.
Sebagai guru besar
Syathariyah, Syaikh Abdur Ra'uf ini berusaha mendamaikan wujudiyah dari lbnu
Arabi dengan tasawuf lain yang berkembang di kalangan masyarakat Islam.
Setelah beberapa tahun
di Aceh, Syekh Abdul Muhyi oleh gurunya diajak berkunjung ke
makam seorang yang dikenal masyarakat sebagai Wali Quthb, (Syaikh
Abdul Qadir Jilani di lrak). Perjalanan diteruskan ke Mekah dan Madinah
untuk menunaikan haji.
Syekh Abdul
Muhyi kemudian belajar di Makkah, tidak langsung pulang.
Di Mekah Abdul Muhyi bertemu Syaikh Yusuf al-Maqassari, dan diduga kuat Abdul
Muhyi belajar juga kepada Ahmad al-Qusyasyi, Ibrahim Kurani, dan Hasan
al-Ajami,yaitu guru-guru dari Abdur Ra'uf as-Singkili sendiri.
Syekh Abdul
Muhyi kembali dari Mekah menuju Ampel Denta pada tahun
1678 setelah mendapatkan ijazah untuk men jadi mursyid tarekat Syathariyah dari
gurunya. Sekembalinya dari Ampel Denta, sang ayah menikahkannya dengan putri
bernama Ayu Bekta. Setelah menikah, bersama orang tuanya, Abdul Muhyi
pindah ke Jawa barat untuk menyebarkan Islam, dan berusaha mencari sebuah gua
yang ditunjukkan oleh gurunya, Syaikh Abdur Ra'uf as-Singkili.
Awalnya Syekh
Abdul Muhyi dan keluarga menetap di Desa Darma Kuningan selama 8 tahun
(1678-1685) atas permintaan masyarakat. Karena belum menemukan tujuan yang
hendak dicari, sambil melakukan dakwah, Abdul Muhyi menuju ke Garut Selatan dan
diminta masyarakat untuk tinggal di Pameungpeuk, Garut. Perjalanan diteruskan
ke Lebaksiuh di dekat Batuwarigi. Di berbagai tempat tinggal ini Abdul Muhyi
terus menyebarkan Islam secara santun dengan sentuhan hati sebagai seorang sufi.
Di Lebaksiuh inilah
Abdul Muhyi menemukan gua yang dikeramatkan dan wingit. Gua ini dinamakan
Pamijahan, karena tempat berkembang biaknya banyak ikan. Gua Pamijahan ini
berbatu karang dan penuh dengan hutan lebat, dan karenanya sering disebut juga
sebagai Gua Karang. Sejak saat itu, meski kadang-kadang masih tinggal di
Lebaksiuh, Abdul Muhyi lebih dikenal sebagai Haji Karang.
Gua ini menjadi tempat ’uzlah
dan khalwat-nya, akan tetapi di tempat tinggalnya yang terakhir, ia
membangun perkampungan baru bersama para pengikutnya di sebelah barat Kampung
Ojong, dan dikenal dengan sebutan Safar Wadi.
Di tempat ini dia
membangun masjid dan padepokan sebagai pusat penyebaran lslam dan tarekat
Syathariyah. Sebagai guru Rohani, Abdul Muhyi dihormati masyarakat dan
Keraton Mataram. Desanya diakui sebagai desa perdikan, yang artinya berhak
mengurus urusannya sendiri secara mandiri, meskipun ada di wilayah Mataram.
Meski memiliki hubungan dengan Mataram, hubungan dengan Keraton Cirebon dan
Banten juga dibangun, termasuk setuju sebagian anak-anaknya menikah dengan para
bangsawan dari Cirebon. Hubungan dekat juga terjadi dengan Kesultanan Banten,
termasuk dengan guru Rohani di Banten, yaitu Syaikh Yusuf Tajul khalwaiti
al-Maqassari, yang merupakan temannya ketika di Mekah. Ketika Syaikh Yusuf
bergerilya di hutan-hutan melawan Belanda akibat keberhasilan Belanda memecah
Keraton Banten, Syaikh Yusuf bersembunyi di tempat Syaikh Abdul Muhyi. Di
samping sebagai pendidik, mujahid dalam menyebarkan Islam, seorang yang dikenal
memiliki kemampuan linuwih, Syekh Abdul Muhyi juga seorang penulis. Dia menulis
kitab dalam disiplin tarekat Syathariyah. Tokoh ini meninggal pada 1730 M
atau 1151 H dalam usia 80 tahun. Dia dimakamkan di Pamijahan, yaitu di Bantar
Kalong, Tasikmalaya bagian selatan, Makamnya hingga saat ini menjadi makam yang
sering diziarahi oleh masyarakat NU dan masyarakat Islam pada umumnya.
Sumber: NU JABAR ONLINE
SYAIKH JAFAR SHODIQ (HARUMAN)
Cukup banyak tokoh yang terkenal jasanya dalam menyebarkan Islam di Kab. Garut yang gaungnya meluas hingga luar daerah. Salah satunya adalah Syekh Ja’far Shidiq asal Kec. Cibiuk yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Wali Cibiuk. Ia hidup sezaman, bahkan dikenal bersahabat baik dengan penyebar Islam lainnya di daerah Tasikmalaya, Syekh Abdul Muhyi.
Karena jasanya yang
besar dalam menyebarkan Islam serta perkembangan kehidupan masyarakat Garut,
khususnya di Garut Utara, makamnya yang terletak di kaki Gunung Haruman
Desa Cipareuan, Kec. Cibiuk tak pernah sepi dari para peziarah.
Belakangan, makam Syekh Ja’far Shidiq ini dijadikan Pemkab Garut sebagai
salah satu objek wisata ziarah, tergolong ke dalam atraksi budaya peninggalan
sejarah dengan bentukan fisik (relik/artefak) berupa makam. Selain
berdoa dan menafakuri kiprah perjuangan Syekh Ja’far Shidiq dalam menyebarkan
Islam, para peziarah juga dapat mempelajari kebudayaan, khususnya sejarah dan
kebudayaan Islam.
Syekh Ja’far
Shidiq tidak henti-hentinya mendorong umat untuk terus
menggali serta mengembangkan ilmu dan kemajuan ekonomi, termasuk keahlian
membuat makanan. Salah satu warisan dari Syekh Ja’far Shidiq yang hingga
saat ini terus dikenal, yaitu “sambal cibiuk” yang dikembangkan
putrinya, Nyimas Ayu Fatimah. Sambal cibiuk bahkan sudah menjadi
trade mark di sejumlah restoran di beberapa kota besar seperti Bandung dan
Jakarta.
Syekh Ja’far
Shidiq juga meninggalkan warisan lain yang tak kalah
pentingnya bagi pengembangan Islam, yaitu sebuah bangunan masjid yang
hingga kini masih bisa dimanfaatkan umat Islam untuk berbagai kegiatan
keagamaan. Masjid yang dibangunnya memiliki ciri dan corak khas bangunan
masjid buatan para wali di Pulau Jawa, yaitu beratap kerucut dengan
disangga oleh tiang-tiang kayu kokoh yang sambungannya tidak menggunakan paku.
Diperkirakan bangunan
masjid tersebut sudah berusia lebih dari 460 tahun.
Masjid yang dikenal
dengan sebutan masjid Mbah Wali tersebut terletak di Kp. Pasantren Tengah, Desa
Cibiuk Kidul, Kec. Cibiuk.
Menurut pengurus
masjid, masjid peninggalan Syekh Ja’far Shidiq tersebut aslinya berupa bangunan
panggung berukuran 6 meter kali 6 meter terbuat dari bahan kayu dan bambu,
dengan lantai dari palupuh (papan terbuat dari bambu, red).
SEBELUM
memulai ziarahnya ke makam Syekh Ja’far Shidiq di kaki Gunung Haruman, biasanya
para peziarah terlebih dahulu datang ke Masjid Mbah Ali. Mereka
yang datang ke Cibiuk selain dapat berziarah ke kompleks makam Syekh Ja’far
Shidiq dan Masjid Mbah Wali Cibiuk, juga bisa menikmati wisata kuliner sambal
cibiuk yang tersedia di sejumlah warung dan restoran sepanjang jalur Jalan Raya
Cibiuk. Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan Gunung Haruman juga sering
dijadikan arena olahraga paragliding yang mengundang banyak peserta dan
penonton.
Makam Syekh
Ja’far Shidiq berada di tengah kompleks makam seluas 5
hektare. Lokasi makam berjarak sekitar 300 meter dari ibu kota
Kecamatan Cibiuk atau 21 km dari arah kota Garut. Dari arah Bandung
maupun Tasikmalaya dapat dijangkau melalui jalur Nagreg-Balubur Limbangan. Dari
Terminal Balubur Limbangan, makam tersebut hanya berjarak sekitar 10 kilometer.
Makam Syekh Ja’far
Shidiq terdiri atas empat kompleks makam utama yang semuanya merupakan kerabat
dekatnya yang juga terbilang penyebar Islam di daerah Garut.
Keempat kompleks adalah Makam Eyang Abdul Jabar yang berada di sebelah
Timur, dan agak ke tengah adalah makam Syekh Ja’far Shidiq sendiri. Ke
arah barat terletak makam Nyimas Ayu Siti Fatimah, dan paling ujung
makam Mbah Muhammad Asyim.
Keempat kompleks makam
utama tersebut dibatasi masing-masing oleh pagar bambu.
Pada kompleks makam
Syekh Abdul Jabar terdapat juga makam Mbah Mas’ud atau Rd. Dipakusumah
(cucu mantu dari Sykeh Abdul Jabar), dan Nyimas Syu’batul Alam (istri
Mbah Mas’ud). Pada kompleks makam Syekh Ja’far Shidiq terdapat juga makam Nyimas
Ajeng Kalibah (istri Syekh Ja’far Shidiq), Nyimas Ajeng Sawiyah (juga istri
Syekh Ja’far Shidiq), Nyimas Ajeng Arjawulan (masih istri Syekh Ja’far Syidiq),
Eyang Badruddin (putra Syekh Ja’far Shidiq dari Nyimas Arjawulan), Eyang
Mubarok, dan Eyang Zakaria.
SITU LENGKONG PANJALU
Menurut legenda setempat, pada awal abad ke-7, Raja Panjalu menginginkan putra mahkotanya untuk memperoleh ilmu yang paling sempurna. Putra mahkota yang bernama Sanghyang Borosngora itu kemudian melakukan perjalanan ke Tanah Suci.
Ia memutuskan pergi ke
Mekah untuk mempelajari dan memperdalam ajaran Islam. Sekembalinya ke Panjalu,
ia membawa air
Zam-zam yang kemudian ditumpahkan ke sebuah lembah bernama Lembah
Pasir Jambu.
Air tersebut meluap dan
membentuk danau. Danau itu kini dikenal sebagai Situ Lengkong Panjalu.
Situ Panjalu dikenal
juga sebagai Situ Lengkong Panjalu. Danau alami ini memiliki luas 57,95
hektar.
Situ Lengkong Panjalu
terletak di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di
tengah danau ini terdapat sebuah pulau seluas 9,25 hektar bernama Nusa Gede,
yang menjadi pusat berbagai peninggalan sejarah dan budaya.
Terdapat berbagai hal
unik yang ada dalam Situ Panjalu.
Berikut adalah daftar
hal unik yang bisa dirasakan oleh pengunjung.
Maka dengan ini, sesuai prosedural yang berlaku kami menyatakan bahwa untuk Pengumuman Kelulusan Kelas IX Tahun Ajaran 2024/2025 akan dilaksanakan pada Tanggal :
2 JUNI 2025
Demikian kami sampaikan
TERIMA KASIH
Ketua Yayasan Al-Badar,
Sekaligus Pembina MTs Al-Badar Serta Beliau merupakan Rais Syuriah PCNU Bandung Barat,
Sesepuh Ponpes Al-Ijazie Dawuan Cijenuk-Cipongkor
(KH. Aa Maulana, ZA) Meninggal Dunia di Usia 77 Tahun
Kabar duka menyelimuti Keluarga Besar MTs Al-Badar, Pondok Pesantren
Darul Falah Pasir Satu serta seluruh Warga Nahdliyin di Jawa Barat,
khususnya di Kabupaten Bandung Barat.
Ketua Yayasan Al-Badar sekaligus Rais Syuriah Pengurus
Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung Barat Masa Khidmat 2024 - 2029 (KH
Maulana ZA) meninggal dunia di RS. Santosa Kopo Kota Bandung Pada Hari Minggu, 27 April 2025 (29 Syawal 1446 H), ± Pukul 18:58 WIB.
Almarhum (KH. Maulana, ZA) merupakan anak ke dua dari
lima bersaudara, yakni :
Selain menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Bandung Barat,
almarhum (KH. Maulana, ZA) juga merupakan Ketua Yayasan Al-Badar dan Sesepuh
sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ijazie yang berlokasi di Jalan
Dawuan Desa Cijenuk Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat - Jawa Barat.
Almarhum (KH. Maulana, ZA) di makam kan di Pemakaman Keluarga Kp. Ciselang Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat (Senin, 28-04-2025).
Mari Bersama-sama kita do’akan dengan do’a yang terbaik untuk beliau
Wilujeng linggih dina
Maqom Kamuliaan Alloh Ta'ala
Pileuleuyan Guru
Mulia Tercinta
KH. AA MAULANA, ZA bin
KH. ZAENAL ARIFIN
واجعل قبره روضة من رياض الجنة
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW Tahun 2025 M/1446 H
10 PUISI TEMA ISRA MIRAJ YANG BERMAKNA DAN MENYENTUH HATI
Isra Mi'raj adalah peristiwa yang sangat penting dalam
sejarah Islam.
Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW menjalani
perjalanan dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsa di Yerusalem
(Isra), kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke langit yang tinggi (Mi'raj),
bertemu dengan Allah SWT.
Isra Miraj diperingati oleh umat Muslim setiap 27 Rajab tahun
Hijriah.
Tahun ini, Isra Mi'raj jatuh pada Senin, 27 Januari
2025.
Dalam rangka menyambut perayaan Isra Mi'raj 2025,
terdapat berbagai acara yang diadakan untuk memperingati Isra Mi'raj, termasuk acara
Memperingati Isra Mi'raj yang dilaksanakan MTs AL-BADAR pada tahun 2025 ini.
Berikut ini kami sediakan 10 Puisi Tema Isra Miraj YangBermakna Dan Menyentuh Hati
Untuk Contoh Teks PUISI Isra’ Mi’raj bisa di UNDUH di :
👇
Selamat membaca!
12 Contoh Teks Pidato Isra Miraj Singkat dan Mudah Di hafal
Contoh teks pidato Isra Miraj yang singkat dan mudah dihafal
adalah salah satu hal paling dicari menjelang perayaan Isra Miraj.
Yuk, simak berbagai contohnya yang telah Kami siapkan di bawah ini.
Untuk Contoh Teks Pidato Isra’ Mi’raj bisa
di UNDUH / DOWNLOAD di :
👇
Selamat membaca!
Sinopsis Novel
Malem senen 14 bulan hapit 1291 dibumina haji abdul raup meuni rame pisan, kulantaran anakna nyaeta nyi rapiah rek dilamar ku ujang kusen. teu lami nyi rapiah sareung ujang kusen akhirna nikah. kulantaran maranehna rek mandiri sareng teu ngarepotkeun kolotna, maranehna pindah kahijidesa nu jauh tina desa kolotna tinggal. Akhirna maranehna pindah diiringan ku ceurik kulantaran nyi piah teh teu bisa jauh sareng kolotna, ema na nyu piah nyengceurikan nyi piah supados nyengceurikan anu maot. Akhirna nyi piah sareung ujang kusen nepi ka desa di deket gunung nu jauh timana-mana. Nyi piah tinggal diditu teu pibeutaheun pisan, kulantaran manehna teu biasa tinggal di tempat nu jauh timana-mana ditambahan diditu nyi piah jauh ti kahidupan mewah nu biasana manehna jalankeun.
Tiba-tiba dina hiji waktos nyi piah ngarasa tos teu beutah pisan tinggal di imah eta, akhirna nyi piah kabur ka imah abdullah bade ka imah kolotna. Singket carita nyi piah sareung ujang kusen teh papisah anu akhirna nyi piah nikah ka aom usman lalaki nu dipicinta nyi piah, tapi teu lila nyi piah dicandung ku aom usman, ceurik weh nyi piah kulantaran nyesel ninggalkeun ujang usen demi aom usman. Tapi nyi piah teu bisa naon-naon kulantaran tos jadi takdirna maneh na dicandung. Sami nyi piah, ujang kusen ge jadi jalma anu teu bener sanggeus papisah jeung nyi piah, sok maen awewe jeung ngadu, akhirna kulantaran sikapna anu kos kitu ujang kusen di bui.
Unsur Intriksik Novel
Pangarang : D.K Ardiwinata
Panerbit : Rahmat Cijulang
Tema : Ngahasut atau Baruang
Latar : 1. Latar Tempat : di bumi na nyi piah, ujang kusen, aom abdullah, di desa nyi piah sareung ujang kusen tinggal, sareung di kebon kopi
2. Latar Waktu : sakabehan waktu aya
3. Latar Suasana : bungah, sedih, tegang, emosi
Galur : Maju
Sudut Pandang : urang katilu serba nyaho
Gaya Basa : ngagunakeun basa sunda lemes
Palaku : 1. Nyi Piah
2. Ujang Kusen
3. Aom Usman
4. H. Abdul Rauf
5. Istri H. Abdul Rauf
6. H. Samsudin
7. Istri H. Samsudin
8. H. Banisah
9. Nyi Dampi
10. Agan Ali
11. Abdullah
12. H. Tayib
Amanah : Sing jadi jalma teh tong gampang dihasut ku urang lain, sok boga pendirian nu kukuh sareng nyerahkeun diri ka ngabogaan hirup.